Siang tadi saya menghadiri pernikahan rekan kerja di tempat lama. Mengingat dia seperti menyaksikan sebuah testimoni nyata dari kebesaran jiwa seorang anak manusia. Teman saya ini lahir dari keluarga sederhana, anak perempuan pertama dari 3 bersaudara. Dengan kondisi keuangan yg pas-pasan karena ayahnya yg telah pensiun tanpa pesangon & uang pensiunan, ditambah harus membiayai sekolah adik2nya dan kebutuhan keluarga, teman saya ini benar2 jadi tumpuan keluarga. Untuk anak muda seusianya hari sabtu & minggu yg biasanya dipakai untuk santai, tidak demikian dengan teman saya yg satu ini. Sabtu dan Minggu baginya tetap adalah hari kerja demi mencukupi kebutuhan keluarga dengan memberikan les bhs Inggris.
Sekalipun kepala di bawah kaki di atas teman saya yg satu ini pantang mengeluh. Rasanya saya hampir tidak pernah melihat dia sedih, hari-harinya selalu diisi dengan sikap optimis, dan semangat hidup yg tinggi. Bahkan kadang terlalu naif menurut saya. Saya sungguh kagum dengan spirit hidupnya yg tinggi. Satu lagi yg saya kagumi darinya adalah sifat dermawannya. Sekalipun hidup sederhana, teman saya ini selalu saja ringan tangan untuk membeli oleh-oleh, membawakan makanan2 ringan ke kantor, bahkan setahu saya ia juga setiap bulan rutin menyumbang ke salah satu saudaranya yg menurutnya masih kekurangan. Untuk membahagiakan orang lain rasanya teman saya ini selalu rela menyingkirkan kesenangan pribadinya sampai belum memikirkan untuk menikah...
Sungguh Allah maha adil. Segala kebaikan kita pasti akan mendapat balasan yg setimpal. Mungkin di dunia, mungkin di akhirat.
Seperti judul lagu Badai pasti Berlalu, rupanya seperti itu juga kesusahan teman saya ini pelan-pelan sirna. Awal tahun 2010 dia berkenalan dengan pemuda yang baik, dari keluarga baik-baik, karirnya sangat baik, gajinya mungkin berkali-kali lipat dari gajinya, dan yg penting berniat serius menikahinya...
Di tempat pernikahannya yg penuh dengan taburan bunga, saya jadi melamun. Terkenang omongannya beberapa tahun yang lalu, jika kita membicarakan pesta pernikahan teman. Katanya. "aku pingin deh nikah seperti itu, bisa nggak ya..". Yah, tangan Tuhan sudah bekerja teman, mimpimu kini telah hadir dihadapan..!! Selamat Menempuh Hidup Baru Sobat.
Sabtu, 18 Desember 2010
Jumat, 29 Oktober 2010
Hukum Karma
Membaca judul postingan saya, pikiran pasti sudah berfikir yg seram2. Kalau dulu orang mengaitkan hukum karma dengan kutukan. Itu bahasa seramnya. Sebenarnya hukum karma ada dalam setiap ajaran agama, hanya istilahnya yg berbeda-beda. Singkatnya semua amal perbuatan kita, pasti mendapat balasan yg setimpal. Entah itu amalan baik maupun amalan buruk.
Dalam ilmu pasti juga dikenal Hukum Kekekalan Energi, dimana prinsipnya semua energi yg ada di alam raya ini selalu dalam jumlah yg tetap. Jika ada energi yg berkurang maka alam akan mengembalikannya dalam jumlah yang sama.
Omong-omong tentang hukum karma, saya punya pengalaman terkini. Saya mempunyai satu anak buah yang susah sekali diatur. pada jam kerja, sering sekali dia BB-an dengan teman2nya, sekalipun saat jam kerja. Saya sudah menegurnya, tapi si bandel ini tetap saja ngeyel. Bahkan atasan sayapun tidak digubrisnya. Kesabaran saya sebagai bos benar2 di uji oleh si bandel ini. Kalau dia anak saya, pasti sudah saya cubiti. Tapi menasehati anak orang, terutama orang dewasa yg bandel ternyata memang tidak mudah. Alhasil, saya sering mengelus dada, alias makan hati sendiri .
Mau tahu apa hasil dari"makan hati" saya selama ini? Suatu hari, tiba2 BBnya jatuh, dan mati total. Si bandel pun bingung krn keasyikannya jadi terganggu. Dibawalah BB ini ke Service Center. Tapi apa mau dikata, si BB ini benar2 mati total selama2nya akibat LCDnya yg rusak. Kalau diganti, harganya hampir separo dari harga BB.
Alhasil, si bandel ini berhenti dari aktifitas "autisnya". Saya pun lega, sungguh saya tidak pernah berdo'a agar BBnya hilang atau rusak. Tapi Allah Maha Tahu dan membalas kegundahan hati saya dan kenakalannya dengan harga yang sepadan.
Dalam ilmu pasti juga dikenal Hukum Kekekalan Energi, dimana prinsipnya semua energi yg ada di alam raya ini selalu dalam jumlah yg tetap. Jika ada energi yg berkurang maka alam akan mengembalikannya dalam jumlah yang sama.
Omong-omong tentang hukum karma, saya punya pengalaman terkini. Saya mempunyai satu anak buah yang susah sekali diatur. pada jam kerja, sering sekali dia BB-an dengan teman2nya, sekalipun saat jam kerja. Saya sudah menegurnya, tapi si bandel ini tetap saja ngeyel. Bahkan atasan sayapun tidak digubrisnya. Kesabaran saya sebagai bos benar2 di uji oleh si bandel ini. Kalau dia anak saya, pasti sudah saya cubiti. Tapi menasehati anak orang, terutama orang dewasa yg bandel ternyata memang tidak mudah. Alhasil, saya sering mengelus dada, alias makan hati sendiri .
Mau tahu apa hasil dari"makan hati" saya selama ini? Suatu hari, tiba2 BBnya jatuh, dan mati total. Si bandel pun bingung krn keasyikannya jadi terganggu. Dibawalah BB ini ke Service Center. Tapi apa mau dikata, si BB ini benar2 mati total selama2nya akibat LCDnya yg rusak. Kalau diganti, harganya hampir separo dari harga BB.
Alhasil, si bandel ini berhenti dari aktifitas "autisnya". Saya pun lega, sungguh saya tidak pernah berdo'a agar BBnya hilang atau rusak. Tapi Allah Maha Tahu dan membalas kegundahan hati saya dan kenakalannya dengan harga yang sepadan.
Senin, 20 September 2010
Tamu Istimewa
Ramadhan sudah berlalu. terasa seperti ada yang hilang dari dalam diri. Kekhusukan dan hiruk pikuk Idul Fitri nyaris seperti bayangan sekelebat yg tiba-tiba menghilang, tapi kesan yg ditimbulkan begitu mendalam. Kadang timbul penyesalan dalam hati akibat kurang maksimalnya ibadah yang saya telah jalani.
Kalau sudah begini, biasanya ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam ketika saya masih kuliah. Karena kebetulan saya anak kost, praktis kegiatan saya setelah kuliah ya santai. Waktu untuk bersantai yg cukup banyak itu seingat saya bisa dipakai untuk mendengar ceramah di radio, shalat sunnah, membaca qur'an dan membaca buku-buku bermanfaat.
Sayangnya hal-hal seperti itu sulit saya ulangi sekarang. Sungguh saya merindukannya!
Ramadhan...Semoga tahun depan engkau kembali menyapaku. Tamu istimewa, yang tiada ternilai harganya....
Kalau sudah begini, biasanya ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam ketika saya masih kuliah. Karena kebetulan saya anak kost, praktis kegiatan saya setelah kuliah ya santai. Waktu untuk bersantai yg cukup banyak itu seingat saya bisa dipakai untuk mendengar ceramah di radio, shalat sunnah, membaca qur'an dan membaca buku-buku bermanfaat.
Sayangnya hal-hal seperti itu sulit saya ulangi sekarang. Sungguh saya merindukannya!
Ramadhan...Semoga tahun depan engkau kembali menyapaku. Tamu istimewa, yang tiada ternilai harganya....
Kamis, 27 Mei 2010
Duh...Cacar...cacar..
Beberapa hari ini saya terserang penyakit cacar air. Penyakit yg satu ini memang belum pernah mampir ke tubuh sejak saya lahir. Alhasil saya diharuskan dokter istirahat selama 1 minggu, padahal ini hari-hari terakhir saya sebelum memegang posisi baru ditempat yg juga baru.
Hhhmmm..Apa boleh buat. Penyakit memang salah satu cobaan yg diberikan Allah kepada manusia. Awalnya saya jengkel setengah mati dengan si cacar air ini. Seluruh badan saya panas dan gatal, demam dan sulit menelan. Sempat saya mengumpat "sialan"di dalam hati melihat si cacar air seenaknya saja menjalar di tubuh saya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi apa yang saya dapat, cacar air saya seperti meletup-letup sejalan dengan kemarahan saya padanya. Tapi anehnya ketika saya beristighfar menghadapi cobaan ini, aliran darah terasa sejuk dan si cacar seperti tidak berulah.
Ujung-ujungnya, saya berterimakasih sekali kepada Tuhan karena diberi penyakit ini. Alhamdulillah..beberapa kali saya ucapkan. Coba kalau saya nggak sakit cacar air, pasti saya tidak pernah merasakan penderitaannya orang sakit cacar air. Ternyata sehat itu karunia Allah yang luar biasa, tapi jarang sekali kita syukuri (apa harus sakit dulu ya baru kita syukuri?).
Manusia memang seringkali mengeluh atas rizki yg dirasanya selalu kurang. Padahal, rizki itu wujudnya tidak mesti uang maupun jabatan, tapi bisa juga berupa kegembiraan, kesehatan, kesabaran, kecukupan dll.
Yah...Satu lagi pengalaman berharga saya dapati.
Hhhmmm..Apa boleh buat. Penyakit memang salah satu cobaan yg diberikan Allah kepada manusia. Awalnya saya jengkel setengah mati dengan si cacar air ini. Seluruh badan saya panas dan gatal, demam dan sulit menelan. Sempat saya mengumpat "sialan"di dalam hati melihat si cacar air seenaknya saja menjalar di tubuh saya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi apa yang saya dapat, cacar air saya seperti meletup-letup sejalan dengan kemarahan saya padanya. Tapi anehnya ketika saya beristighfar menghadapi cobaan ini, aliran darah terasa sejuk dan si cacar seperti tidak berulah.
Ujung-ujungnya, saya berterimakasih sekali kepada Tuhan karena diberi penyakit ini. Alhamdulillah..beberapa kali saya ucapkan. Coba kalau saya nggak sakit cacar air, pasti saya tidak pernah merasakan penderitaannya orang sakit cacar air. Ternyata sehat itu karunia Allah yang luar biasa, tapi jarang sekali kita syukuri (apa harus sakit dulu ya baru kita syukuri?).
Manusia memang seringkali mengeluh atas rizki yg dirasanya selalu kurang. Padahal, rizki itu wujudnya tidak mesti uang maupun jabatan, tapi bisa juga berupa kegembiraan, kesehatan, kesabaran, kecukupan dll.
Yah...Satu lagi pengalaman berharga saya dapati.
Senin, 03 Mei 2010
Kenangan..
Beberapa waktu lalu saya berhasil menemukan tempat kumpul alumnus fakultas saya di Facebook. Perasaan saya campur aduk, gembira, geli, terharu melihat wajah teman2 lama. Perasaan saya berdebar-debar penasaran ketika mengkllik satu persatu nama-nama yg ada. Ck..ck.ck..ternyata waktu memang bisa mengubah penampilan kita tanpa disadari. Beberapa teman, seingat saya..dulu sangat culun...elho..sekarang jadi tampil beda!!.
Ingatan saya melayang ke beberapa tahun yang lalu. Idealisme dan kesederhanaan jelas cerminan wajah kami saat itu. Tapi takdir memang tidak bisa kita duga. Sahabat saya yang dulu bercita-cita jadi dosen, malah sibuk mengurus anak2nya. Sama juga lho dengan saya,..dulu bercita-cita jadi peneliti,..eh kok malah jadi orang kantoran. Nggak nyambung lagi dengan background kuliah saya..he..he...
Kalau saja waktu bisa diputar mundur....
Ingatan saya melayang ke beberapa tahun yang lalu. Idealisme dan kesederhanaan jelas cerminan wajah kami saat itu. Tapi takdir memang tidak bisa kita duga. Sahabat saya yang dulu bercita-cita jadi dosen, malah sibuk mengurus anak2nya. Sama juga lho dengan saya,..dulu bercita-cita jadi peneliti,..eh kok malah jadi orang kantoran. Nggak nyambung lagi dengan background kuliah saya..he..he...
Kalau saja waktu bisa diputar mundur....
Jumat, 23 April 2010
Today is Friday...Thank's God. Bagi saya tidak ada hari kerja yang paling menyenangkan selain hari jum'at. Selepas pulang kantor, saya mulai merancang-rancang apa yang akan saya lakukan besok. Yang pasti saya akan mengurusi tanaman-tanaman sambil memandangi ikan-ikan di kolam kecil taman.
Bicara tentang tanaman, saya punya cerita tersendiri. Beberapa waktu lalu saya pernah memelihara sejenis tanaman hias yang saya dapat di areal tea walk Puncak (oh ya, kebiasaan saya yakni mengoleksi tanaman-tanaman unik yang saya dapat setiap berkunjung ke suatu tempat). Dengan hati-hati anak tanaman hias itu saya bawa. Menurut penilaian saya, tanaman ini sangat indah. Daunnya bisa berubah warna tergantung cuaca, bertekstur beludru dengan degradasi warna yang kontras.
Sekalipun cuaca puncak berbeda dengan tempat tinggal saya, tapi tangan dingin saya mampu membuatnya tumbuh sehat. Keindahan tanaman hias saya itu tidak hanya mempesona saya, tapi ternyata juga mempesona pencuri tanaman hias. Hingga suatu ketika, si tanaman tersebut raib dari teras rumah . Sedih dan menyesal juga saya dibuatnya. Sedih, karena saya sudah susah payah merawatnya dari kecil sampai menjadi besar, plus menyesal kenapa saya letakkan begitu saja di teras rumah yang setiap hari orang lalu lalang melihatnya . Mungkin pikir si pencuri, tanaman ini sangat mahal dan langka. Bicara soal langka saya membenarkan, karena sepanjang ingatan saya, tanaman jenis itu tidak saya jumpai di sentra2 penjualan tanaman hias (padahal di area teawalk tanaman ini tersebar dimana-mana).
HHHhhhh......saya hanya bisa menarik napas panjang. Kapan ya saya ada waktu untuk ke areal tea walk Puncak lagi???
Bicara tentang tanaman, saya punya cerita tersendiri. Beberapa waktu lalu saya pernah memelihara sejenis tanaman hias yang saya dapat di areal tea walk Puncak (oh ya, kebiasaan saya yakni mengoleksi tanaman-tanaman unik yang saya dapat setiap berkunjung ke suatu tempat). Dengan hati-hati anak tanaman hias itu saya bawa. Menurut penilaian saya, tanaman ini sangat indah. Daunnya bisa berubah warna tergantung cuaca, bertekstur beludru dengan degradasi warna yang kontras.
Sekalipun cuaca puncak berbeda dengan tempat tinggal saya, tapi tangan dingin saya mampu membuatnya tumbuh sehat. Keindahan tanaman hias saya itu tidak hanya mempesona saya, tapi ternyata juga mempesona pencuri tanaman hias. Hingga suatu ketika, si tanaman tersebut raib dari teras rumah . Sedih dan menyesal juga saya dibuatnya. Sedih, karena saya sudah susah payah merawatnya dari kecil sampai menjadi besar, plus menyesal kenapa saya letakkan begitu saja di teras rumah yang setiap hari orang lalu lalang melihatnya . Mungkin pikir si pencuri, tanaman ini sangat mahal dan langka. Bicara soal langka saya membenarkan, karena sepanjang ingatan saya, tanaman jenis itu tidak saya jumpai di sentra2 penjualan tanaman hias (padahal di area teawalk tanaman ini tersebar dimana-mana).
HHHhhhh......saya hanya bisa menarik napas panjang. Kapan ya saya ada waktu untuk ke areal tea walk Puncak lagi???
Jumat, 16 April 2010
Manusia-Manusia Hebat
Beberapa hari lalu saya mengikuti sebuah training yang diselenggarakan oleh learning division di perusahaan kami. Saya dan peserta yang lain sangat bersemangat mengikutinya, karena kami anggap materi yang disampaikan merupakan issue baru bagi kami. Ada satu pembicara yang menyita perhatian saya. Bukannya apa-apa, tapi saya sungguh kagum pada kualitas dirinya. Tidak hanya pintar bicara, beliau juga humoris, smart, dan memiliki segudang aktivitas untuk memajukan orang lain.
Jika bertemu orang-orang seperti ini, saya sering berfikir,"Mereka dikasih makan apa ya?" Saya yakin mereka juga makan tempe tahu seperti kita. Saya yakin orang-orang hebat ini memiliki banyak faktor yang membuatnya bisa seperti itu. Ibarat tanaman, untuk menghasilkan buah yang bagus tidak semata-mana berasal dari bibit yang unggul, tapi juga tanah tempat tumbuh dan pola pemeliharaan. Bedanya menghasilkan buah dengan kualitas A jauh lebih mudah dibanding menciptakan manusia unggul. Masalahnya, mengurus manusia yang notabene memilki akal, pikiran dan nafsu ternyata tidak mudah. Tanaman ya nurut saja diberi pupuk macam-macam, dipotong, disuntik. Lha kalau manusia, disuruh belajar saja susah...Disuruh shalat, puasa, ngaji ogah-ogahan. Yang sibuklah, tanggunglah, capeklah dan segudang alasan.
Padahal kalau kita bisa lebih memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita masing=masing, saya yakin tidak banyak orang susah di negeri ini. Betul nggak?.....
Jika bertemu orang-orang seperti ini, saya sering berfikir,"Mereka dikasih makan apa ya?" Saya yakin mereka juga makan tempe tahu seperti kita. Saya yakin orang-orang hebat ini memiliki banyak faktor yang membuatnya bisa seperti itu. Ibarat tanaman, untuk menghasilkan buah yang bagus tidak semata-mana berasal dari bibit yang unggul, tapi juga tanah tempat tumbuh dan pola pemeliharaan. Bedanya menghasilkan buah dengan kualitas A jauh lebih mudah dibanding menciptakan manusia unggul. Masalahnya, mengurus manusia yang notabene memilki akal, pikiran dan nafsu ternyata tidak mudah. Tanaman ya nurut saja diberi pupuk macam-macam, dipotong, disuntik. Lha kalau manusia, disuruh belajar saja susah...Disuruh shalat, puasa, ngaji ogah-ogahan. Yang sibuklah, tanggunglah, capeklah dan segudang alasan.
Padahal kalau kita bisa lebih memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita masing=masing, saya yakin tidak banyak orang susah di negeri ini. Betul nggak?.....
Langganan:
Postingan (Atom)