Sabtu, 20 Februari 2010

Selamat Jalan My Bos...

Waktu berjalan terus. Tanpa terasa perpisahan kami dengan bos tinggal menunggu dalam hitungan jari. Karena sebentar lagi si bos akan hijrah ke tempat baru yang tentu dirasa paling baik menurutnya. Bos saya yang satu ini adalah bos unik hingga saya merasa perlu untuk mengenangnya. Si bos adalah seorang yang smart, cekatan karena dulu dia seorang sekretaris, rapi dan teliti.Untuk yang terakhir ini saya paling acungkan jempol. Karena rapi dan telitinya si bos tidak hanya dalam tulisan, dan pengadministrasian saja. Tapi juga rapi dan teliti dalam menuangkan ide dan pendapatnya secara lisan maupun tulisan.

Tapi, si bos yang nyaris "perfecto" ini tetap saja seorang manusia biasa yang tidak mungkin sempurna. Dibalik kehebatannya, si bos punya kelemahan yang sangat unik dan langka. Mau tahu apa kelemahannya? Si bos ini mempunyai kebiasaan jelek yang muncul tiap pagi sampai kadang-kadang menjelang tutup kantor. Bos saya ini mempunyai sifat "moody" alias "bete" pada pagi hari alias" morning sick" atau apalah istilahnya untuk menggambarkan suasana hatinya yang kacau balau pada pagi hari. Dan anehnya, bukan pada tanggal2 tertentu saja ini terjadi seperti umumnya wanita menjelang datang bulan. Sifat moody pagi-nya ini tidak mengenal tanggal, bulan maupun tahun. Padahal saat pagi hari, saya dan teman-teman membutuhkan support untuk memulai hari, agar bisa bekerja dengan optimal. Tapi ya itu...Lagi-lagi kami harus sabar dan mengelus dada menghadapi moddy paginya itu. Kalau sedang moody wajah cantiknya itu akan keruh, seperti ada mendung yang menggayut. Kadang-kadang timbul rasa kasihan juga melihatnya. Pasti si bos sendiri tersiksa dengan kelemahannya ini, tapi tidak berdaya mengatasinya.

Walau begitu si bos sesungguhnya adalah orang yang baik hati. Walaupun kaku, tapi sesungguhnya dia tidak pernah mencoba menghambat rezeki orang dengan menunda-nunda kenaikan karir anak buahnya. Jika memang dianggap baik dalam pandangan si bos yang obyektif ini, maka dia akan "go fight" mempromosikan anak buahnya tersebut. Dan itu saya alami sendiri. Sekalipun kesal dengan moodynya ini, tapi saya sungguh terharu dengan usaha dia untuk memajukan saya ke posisi yang sama dengannya.

Selamat jalan bos...Semoga sukses selalu menyertaimu, dan satu pesan saya, " Kalau lagi moody, jangan galak-galak ya bos..."

Sabtu, 30 Januari 2010

Sebuah Peluang, SebuahHarapan....

Dua minggu terakhir ini saya disibukkan oleh tawaran job posting yang saya baca di email. Tawaran itu seperti oase di padang gurun tandus. Seperti "miracle" yang tiba-tiba saja jatuh dari langit. Kenapa saya berfikir seperti itu? Sebab tawaran itu sangat lama saya nantikan, tapi tidak pernah hadir...Ketika ia hadir, oh my God...kriteria saya sangat memenuhi persyaratan yang diminta.

Sejujurnya, saya bukan tipikal orang yang punya ambisi besar. Tapi bukan berarti saya tidak punya keinginan mencapai jenjang karir yang lebih baik. Dan saya rasa itu wajar-wajar saja.

Saya teringat sebuah cerita dua orang sahabat. Alkisah, sebut saja si A, yakin sekali kalau kesuksesan datang karena hoki, alias kesempatan baik yang selalu menghampirinya. Sementara sahabatnya si B, yakin bahwa kerja keraslah yang mampu mewujudkan setiap impian hidupnya. "Coba kamu perhatikan, orang yang punya kemauan keras, banyak terbukti sukses dalam hidupnya", demikian pendapatnya.

Well, saya yakin sukses dapat kita raih bila kerja keras bertemu dengan kesempatan (hoki). Semoga kali ini, kerja keras saya dan kesempatan bisa berjalan beriringan.......

Rabu, 06 Januari 2010

"Dalam setiap kesulitan, selalu ada kemudahan..."

Beberapa hari ini saya direpotkan oleh seorang pelanggan kami yang mengeluh atas ketidakpuasan pelayanan kami. Ibu cantik pelanggan kami ini mendapatkan hadiah BB dari program yang tengah kami gelar. Namun senyumnya hanya bertahan sesaat, karena ternyata BB tersebut bermasalah dan sialnya kartu garansinya pun tidak tersedia dalam paket. Ibu cantik ini berkeluh-kesah dan menuntut agar kami mengganti BBnya yang rusak dengan yang baru.
Sebagai officer yang baik, saya mencoba sebisa mungkin mencari solusi yang bisa kami berikan . Tapi mengganti BB yang rusak? Jelas bukan pilihan. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin provider besar tidak menyertakan kartu garansi dalam paket BBnya? Karena terlanjur basah menangani komplain ini, saya pun dibuat pusing. Pusing menghadapi pelanggan yang ngambek minta diganti dan yang paling pusing.... merasakan diri saya dipimpong habis oleh jalur birokrasi yang berbelit-belit, mulai dari vendor sampai distributornya.
Tapi Tuhan memang baik. Setelah saya bersimpuh memohon bantuanNya, tiba-tiba titik terang muncul. Provider BB tanpa disangka-sangka menghubungi saya dan mengatakan akan mengirim kartu garansi saat itu juga. Ibu cantik yang ngambek minta ditukar BBnya pun tiba-tiba berbaik hati, bersedia mengirimkan BBnya untuk diservice. Thanks God...Engkau memang selalu ada disamping saya, dan tentu disamping anda juga ...jika kita mau dekat denganNya. Bukankah dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan menyertainya? I believed that....

Rabu, 23 Desember 2009

Selamat Natal, atau Selamat Memakai Baju Merah?

Hari ini tanggal 23 Desember 2009. Ada yang sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, yakni kesibukan kantor kami dalam menyambut Natal. Biasanya kegiatan menghias kantor hanya untuk menyambut Idul Fitri dan 17-an. Tapi kali ini memang berbeda sejak kami dimiliki grup asing terkenal. Semua karyawan juga disibukkan dengan kewajiban menggunakan busana kerja dengan nuansa natal, yakni merah. Yaap..agak merepotkan juga, sebab saya pribadi bukan penggemar warna merah. Otak saya berpikir cukup keras, mengingat-ingat seluruh koleksi busana kerja yang saya miliki. Apakah salah satunya ada yang berwarna merah? Alhasil saya putuskan pergi ke pusat perbelanjaan terdekat setelah saya pastikan busana merah memang tidak saya miliki.

Pusat perbelanjaan sangat ramai. Mungkin karena banyaknya diskon bertaburan di akhir tahun. Satu persatu baju merah saya pandangi. Agak takjub juga saat saya menatap harga yang tertera di barcode baju pilihan saya. Mungkin harga yang tercantum adalah akumulasi dari harga kain, jasa penjahit, ongkos kirim, biaya pengepakan, biaya listrik, gaji karyawan dll..dll. Ups..Pikiran saya jadi melantur seraya membolak-balik baju tersebut. Apa boleh buat, saya terlanjur sreg dengan baju merah berkerah dengan taburan payet dan hiasan bordir disana-sini.

Saya pulang dengan perasaan lega, sebab "tugas berat" ini akhirnya selesai juga. Karena saya tidak merayakan Natal, akhirnya saya ucapkan "Selamat Memakai Baju Merah" seraya mematut diri di depan cermin besar di kamar.

Jumat, 18 Desember 2009

Senyumlah....

Cuaca pagi ini cukup bersahabat. Hmmm..Hari libur ini saya memiliki banyak waktu untuk sedikit relaks setelah rutinitas saya di kantor. Pagi yang indah sudah sepantasnya saya awali dengan senyum. Orang bijak bilang, senyum tidak hanya tampak di luar saja, tapi senyum juga harus keluar dari jiwa. Karena senyuman yang berarti akan mendatangkan berkah,...rezeki buat kita. Siapa tahu hari ini saya akan mendapat kejutan yang menyenangkan...